566 Orang Sakit Usai Makan MBG di Sidoarjo, Ini Kondisi Korban Terbaru

Kamis, 03 September 2026 | 00:48:00 WIB

ONLINEKINI.ID — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengonfirmasi adanya tambahan 35 kasus baru pada Rabu (2/9). Sebelumnya, data mencatat 531 orang terdampak.

"531 ditambah 35. Kurang lebih 566," ujarnya kepada wartawan.

Dari total tersebut, sebanyak 88 pasien masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit. Beruntung, kondisi mereka dilaporkan stabil dan tidak ada yang membutuhkan perawatan khusus.

Gejala yang Dikeluhkan Para Santri dan Pelajar

Keluhan yang dialami para korban relatif seragam. Sebagian besar mengeluhkan mual, muntah, dan pusing beberapa saat setelah menyantap makanan yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.

"Sementara nampaknya mual, muntah, pusing itu aja yang paling banyak," kata Lakhsmie.

Bukan Hanya Satu Ponpes, 19 Sekolah Lain Terdampak

Peristiwa ini tidak hanya menimpa santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Dinas Kesehatan mencatat, siswa dari 19 lembaga pendidikan lain di kawasan Tanggulangin turut merasakan gangguan kesehatan yang sama.

Hingga kini, 470 pasien yang sempat menjalani pemeriksaan telah diperbolehkan pulang. Dinkes menyerahkan keputusan pemulangan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien setelah dinyatakan membaik.

Penyebab Masih Misteri, Sampel Muntahan Diperiksa

Dinkes Sidoarjo belum bisa memastikan pemicu keracunan massal ini. Petugas telah mengumpulkan sampel muntahan pasien dan bahan makanan dari dapur SPPG untuk diuji di laboratorium. Proses pemeriksaan diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari.

Selain menunggu hasil lab, pemerintah juga menelusuri penerapan SOP penyediaan makanan, mulai dari bahan baku hingga makanan disantap penerima manfaat. Investigasi ini melibatkan Dinkes dan instansi terkait, termasuk BPOM.

"Yang perlu kita investigasi, SOP-nya dijalankan atau tidak. Dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu kan ada batas waktunya," tegas Lakhsmie.

Untuk mempercepat penanganan, mekanisme krisis kesehatan telah diaktifkan. Puskesmas bertugas sebagai koordinator di lapangan, sementara rumah sakit disiagakan dengan tenaga medis dan obat-obatan lengkap. Delapan rumah sakit seperti RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, dan RS Siti Hajar dikerahkan untuk merawat para pasien.

Terkini