Pengaruh Cara Melahirkan Bayi Terhadap Daya Tahan Tubuh Sang Anak

Kamis, 10 September 2026 | 05:16:31 WIB
Ilustrasi bayi.

JAKARTA — Cara melahirkan anak, baik secara normal maupun lewat bedah caesar, memberikan dampak lingkungan awal yang tidak sama. Variasi jalur lahir ini berpengaruh langsung pada pembentukan koloni mikroba di dalam pencernaan yang memegang peranan krusial bagi daya tahan tubuh balita.

Bayi yang dilahirkan melalui prosedur operasi caesar mempunyai rute persalinan yang berbeda, sehingga profil mikroba di ususnya pun tidak persis sama dengan bayi yang lahir per vaginam. Berdasarkan penuturan dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), faktor lingkungan ini berdampak langsung pada keseimbangan flora usus anak sejak pertama kali bernapas di dunia.

"Pada persalinan normal, anak terpapar mikroorganisme yang berasal dari ibu, yang berkontribusi terhadap pembentukan mikrobiota usus di awal kehidupan," terang dr. Andy dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Sewaktu janin keluar melalui jalur lahir alami, anak akan tertelan beraneka bakteri komensal yang hidup subur pada area tersebut. Perlu diketahui, mikroba komensal merupakan organisme bersel satu yang hidup menetap di dalam atau permukaan tubuh sang induk.

Keberadaan bakteri ini sama sekali tidak merugikan, malah acap kali membawa faedah bagi organ yang ditempatinya. Kumpulan mikroorganisme inilah yang nantinya pertama kali mendiami saluran cerna bayi guna melatih perkembangan daya tahan tubuhnya.

"Di jalan lahir ibunya itu banyak kuman-kuman baik. Kuman-kuman baik ini akan masuk ke dalam mulut bayi dan berkembang di usus bayinya," tambah spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFM.

Bakteri menguntungkan seperti jenis Bifidobacterium dan Bacteroides mendominasi usus anak yang lahir secara persalinan normal. Namun sayangnya, kelebihan berupa transfer bakteri menguntungkan dari sang ibu ini tak bisa dirasakan oleh anak yang lahir lewat operasi caesar.

Tidak tersalurkannya mikroba dari tubuh ibu ini mengakibatkan tahap pembentukan koloni awal di saluran cerna sang anak menjadi terlambat serta berjalan kurang sempurna.

"Anak yang lahir melalui persalinan caesar memiliki kolonisasi mikrobiota usus yang berbeda karena tidak melalui proses paparan yang sama selama persalinan," papar dr. Andy.

Akibat tidak melintasi jalur lahir alami, bagian dalam usus bayi bedah caesar justru ditempati oleh deretan mikroba yang bersumber dari luar. Asal-usul mikroba tersebut beralih dari kondisi udara ruang bedah, peranti medis, hingga bagian luar kulit ibu.

"Pada tindakan caesar, kumannya ini berubah, karena bayi lebih banyak terpapar kuman-kuman patogen, kuman-kuman jahat kalau kami bilangnya, yang berasal dari kulit ibunya," ungkap dr. Febriansyah.

Masuknya jenis kuman penyebab penyakit ini merombak total keanekaragaman mikroba alami pada saluran cerna. Ekosistem mikrobiota akhirnya didominasi kelompok kuman yang kerap dikaitkan dengan pemicu infeksi maupun lingkungan sarana kesehatan.

"Misalnya Staphylococcus, Streptococcus, Klebsiella. Sementara kalau dia lahir normal, dia lebih banyak kuman-kuman baik," tutur dr. Febriansyah.

Sedikitnya populasi mikroba baik mengakibatkan proses pematangan organ pencernaan anak berlangsung lebih lambat apabila disandingkan dengan bayi lahir normal. Keadaan ini tentu memerlukan perhatian lebih demi melindungi kekebalan tubuh anak yang masih sangat rentan di masa awal kelahirannya.

Ketidakseimbangan jumlah mikroba baik dan kuman jahat ini dapat memicu timbulnya gangguan medis yang dinamakan disbiosis usus. Masalah ini merusak benteng pertahanan alami tubuh yang semestinya sudah terbentuk sejak hari pertama bayi dilahirkan.

"Jadi, pada proses-proses persalinan normal, keragaman kumannya ini lebih baik dibandingkan pada persalinan yang dilakukan dengan tindakan caesar," jelas dr. Febriansyah.

Dokter Febriansyah menegaskan, pergeseran profil mikroba usus ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Pasalnya, kondisi ketidakseimbangan flora pencernaan terbukti ikut berdampak buruk pada daya tahan tubuh anak di masa mendatang.

"Perbedaan pola kolonisasi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus pada awal kehidupan dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya disbiosis usus," ucap dr. Andy.

Kerusakan ekosistem mikroba ini berhubungan erat dengan ancaman alergi makanan, gangguan pernapasan asma, penyakit celiac, kelebihan berat badan, hingga risiko diabetes saat anak bertambah dewasa.

Baik dr. Andy maupun dr. Febriansyah mengimbau agar pemahaman mengenai risiko kesehatan jangka panjang ini sanggup mendorong orang tua supaya lebih teliti dalam memberikan pemeliharaan terbaik sejak dini.

Terkini