Radio 90-an Siapkan Festival Musik Khusus Era 1990-an, Tanpa Nuansa Lintas Generasi

Kamis, 17 September 2026 | 10:36:00 WIB

ONLINEKINI.ID — Penggagas platform Radio 90-an, Joana Kania, menyiapkan festival musik yang secara khusus mengangkat atmosfer dan memori era 1990-an. Berbeda dari festival besar yang menggabungkan berbagai generasi, acara ini dirancang fokus pada satu dekade dengan pendekatan kurasi berbasis riset dan data. Festival tersebut disebut akan menghadirkan pengalaman yang kontras dengan penyelenggara musik populer yang sudah ada.

Joana Kania menyatakan festival yang tengah disiapkannya tidak akan dicampur dengan nuansa dekade lain. Ia menegaskan fokus acara murni pada era 1990-an, bukan konsep lintas generasi seperti yang banyak dijumpai di panggung musik saat ini.

"Festival musik yang pasti enggak tercampur sama nuansa yang lain-lain, memang kita fokus sama 90-an, gitu," ujar Joana Kania di kawasan Jakarta Selatan, Rabu, 16 September.

Kontras dengan Pestapora dan Synchronize Fest

Joana menyadari panggung musik Indonesia sudah diramaikan festival besar seperti Synchronize Fest dan Pestapora. Karena itu, ia berjanji mengemas acaranya dengan suguhan yang berbeda dan segar bagi penikmat musik.

"Tentunya kita nanti mengemasnya itu berbeda dengan yang lain, enggak sama dengan Pestapora dan Synchronize. Karena 'kan harus ada perbedaannya, dong, gitu. Kita bikin sesuatu kalau masih sama juga konsepnya, ya sama aja. Kita cari sesuatu yang berbeda," tuturnya.

Rekonstruksi Memori Emosional Era 90-an

Nilai jual utama festival ini, menurut Joana, adalah rekonstruksi memori emosional era 1990-an. Ia menyebut peristiwa-peristiwa penting yang melingkupi dekade tersebut akan menjadi bahan penggarapan acara.

"Makanya di sini aku membangkitkan kenangan, momen, apa yang sekiranya bisa kita angkat dari apa yang terjadi di tahun 90-an termasuk perang sebelum kerusuhan, itu 'kan banyak. Banyak hal-hal yang ya positif negatif lah yang kita bisa ambil dari situ," jelasnya.

Pintu Terbuka bagi Musisi Muda Bernuansa Retro

Fenomena musisi muda yang membawakan musik bernuansa retro, seperti Diskoria hingga The Lantis, mendapat respons positif dari Joana. Pihaknya tidak menutup pintu bagi mereka dan bersikap fleksibel dalam mengurasi penampil.

"Sebenarnya kita juga enggak mau terlalu idealis. Kita juga 'kan riset by data juga, nuansanya, ya 'kan. Dari nuansanya sampai ke dalam isian liriknya, gitu. Ya kita bisa juga gandeng pendatang-pendatang baru memang yang menghadirkan 90-an," beber Joana.

Langkah merangkul musisi baru beraliran retro diambil demi menjembatani generasi muda agar kembali melirik karya-karya terbaik di masa lampau. "Karena memang targetnya kita memang mau naikin lagi tuh effort orang untuk mengingat," imbuhnya.

Alasan Memilih Dekade 1990-an

Joana menegaskan alasan memilih dekade 1990-an sebagai fokus utama festivalnya, bukan era 1980-an ataupun 2000-an. Menurutnya, dekade tersebut merupakan puncak masa keemasan industri musik tanah air.

"Menurut aku dan beberapa teman aku yang ada di bidang musik juga, ada di industri, masa kejayaan Indonesia soal musik itu memang di era 90. Makanya kenapa kita memilih Radio 90-an, tidak di Radio 80-an atau 2000-an, belum, gitu. Tapi kita bikin yang versi 90-annya karena ya itu memang golden memory banget udah, itu enggak tergantikan," pungkas Joana.

Terkini