JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mendokumentasikan nilai ekspor asal Provinsi Sumatra Barat pada Januari–Juni 2026 terealisasi US$1.568,05 juta, menggelembung 22,33% dibanding rentang waktu yang sama tahun 2025 senilai US$1.281,78 juta.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin menyampaikan mayoritas komoditas mengemas peningkatan nilai ekspor dibandingkan Januari–Juni 2025, dengan lompatan tertinggi pada golongan garam, belerang, kapur (HS 25) sebesar US$20,00 juta atau melesat 111,20%, serta koreksi terdalam pada golongan kopi, teh, rempah-rempah (HS09) sejumlah US$16,78 juta atau terkikis 44,00%.
"Ekspor asal Sumbar Juni 2026 tercatat US$386,41 juta, naik 47,85% dibanding Juni 2025," katanya dikutip dari data resmi BPS, Selasa (4/8/2026).
Ia menguraikan komoditas yang membukukan kenaikan meliputi lemak & minyak hewan nabati US$1.338,90 juta (terkatut 25,05%), pelbagai produk kimia (HS38) US$55,32 juta (naik 30,69%), karet dan barang dari karet US$48,12 juta (terkatut 33,25%), ampas/sisa industri makanan US$18,02 juta (melonjak 76,01%), sari bahan samak & celup US$17,73 juta (terkatut 59,77%), serta minyak atsiri, kosmetik wangi-wangian US$9,53 juta (naik 24,16%).
Sementara komoditas yang mengalami penurunan mencakup bahan-bahan nabati US$30,42 juta (menyusut 15,50%), kopi, teh, rempah-rempah US$16,78 juta (terperosok 44,00%), serta buah-buahan US$9,42 juta (menyusut 25,02%).
Nurul menjelaskan sepanjang Januari–Juni 2026, pengiriman ekspor dari sepuluh golongan barang (HS 2 digit) di atas menyumbang kontribusi 99,76% terhadap total ekspor. Menilik dari porsi pertumbuhan, ekspor sepuluh golongan barang tersebut terkatut 23,54% terhadap rentang waktu yang sama tahun 2025.
Komoditas yang paling masif diekspor pada golongan lemak & minyak hewan/nabati (HS 15) selama Januari–Juni yakni liquid fractions of palm oil, refined oil, but not chemically modified, with iodine value 55 or more, but less than 60 (US$599,25 juta), crude palm oil (US$347,90 juta), serta refined palm oil (US$288,92 juta).
"Pada Januari–Juni 2026, India merupakan tujuan ekspor yang memiliki peranan terbesar yaitu sebesar US$385,12 juta 24,56 persen," ujarnya.
Selain menuju India, pengiriman ekspor asal Sumbar turut menyasar Pakistan senilai US$239,84 juta (15,30%), dan Tiongkok sejumlah US$201,09 juta (12,82%). Komoditas utama yang dikirim ke India pada kurun waktu tersebut yakni crude palm oil (CPO).
Menurutnya selama Januari–Juni 2026, ekspor Sumbar pada sektor industri pengolahan menggemuk 26,23% dibanding Januari–Juni 2025 yang ditopang oleh meningkatnya pengiriman komoditas golongan lemak & minyak hewan/nabati. Di samping itu, ekspor produk pertambangan turut melambung 837,51% akibat terkatutnya pengiriman golongan bahan bakar mineral.
"Kalau ekspor hasil pertanian mengalami penurunan sebesar 39,17% yang disumbang oleh menurunnya ekspor golongan kopi, teh, rempah-rempah," jelasnya.
Pengiriman produk industri pengolahan terangkat 51,64%, sedangkan sektor pertambangan dan pertanian terperosok masing-masing 30,59% dan 31,91% untuk Juni 2026 dibanding Juni 2025.
Ia memaparkan ekspor periode Januari–Juni 2026 sebagian besar diberangkatkan dari pelabuhan muat di wilayah Sumbar yakni senilai US$1.477,28 juta. Pengapalan asal Sumbar lewat pelabuhan muat ini membukukan penguatan sebesar 23,95% dibanding kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya.