Mengenal Apa Itu Prediabetes dan Peluang Pulih Menurut Pakar Dokter

Mengenal Apa Itu Prediabetes dan Peluang Pulih Menurut Pakar Dokter
Ilustrasi Prediabetes.

JAKARTA - Diabetes merupakan penyakit yang terjadi ketika kadar gula darah terlampau tinggi akibat tubuh tidak memproduksi insulin secara mencukupi atau gagal memanfaatkannya secara efektif.

Kelainan medis ini terbagi ke dalam beberapa jenis, mulai dari diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, hingga diabetes gestasional yang kerap muncul sepanjang masa kehamilan.

Di tengah ancaman penyakit tersebut, ada satu tahapan awal yang sangat sering luput dari perhatian, yakni prediabetes.

Lantas, apa sejatinya prediabetes dan apakah gejalanya dapat benar-benar dipulihkan hingga kembali normal? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu prediabetes?

Prediabetes merupakan suatu keadaan saat kadar gula darah di dalam tubuh sudah berada di atas batas normal, namun belum menyentuh kriteria untuk didiagnosis sebagai diabetes tipe 2.

Lantaran belum menimbulkan keluhan klinis yang kentara, banyak orang baru menyadarinya sewaktu menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

Bisakah kembali ke kondisi normal?

Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat dr. Marshell Tendean, Sp.PD., Subsp. E.M.D., FINASIM mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat memungkinkan untuk kembali normal.

Dr. Marshell menegaskan bahwa status prediabetes tidak lantas memvonis seseorang pasti bakal terserang diabetes di kemudian hari.

Fase ini justru harus dimanfaatkan sebagai kesempatan emas untuk merombak pola hidup sebelum kondisi tersebut memburuk.

Penelitian yang dipaparkan dr. Marshell membuktikan bahwa modifikasi gaya hidup memegang peranan krusial terhadap perjalanan penyakit ini.

Kajian riset tersebut yakni Diabetes Prevention Program (DPP) yang diselenggarakan oleh Diabetes Prevention Program Research Group.

"Ternyata lifestyle modification yaitu diet dan olahraga itu menurunkan kejadian prediabetes menjadi diabetes sampai 58 persen," ujar dr. Marshell dalam diskusi media Kalbe bertajuk "End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang" pada Selasa (04/08).

Artinya, potensi seseorang dengan status prediabetes berkembang menjadi diabetes tipe 2 sanggup dipangkas secara dramatis apabila perubahan pola hidup dijalankan secara konsisten.

Bahkan, bukan cuma prediabetes yang mengantongi peluang pulih ke kadar gula darah normal, pasien diabetes tipe 2 pun sanggup mencapai fase remisi pada situasi tertentu.

"Kalau bilang prediabetes bisa menjadi normal, ya bisa. Angka menjadi diabetesnya pun turun dengan lifestyle modification. Lalu yang sudah kena diabetes pun bisa remisi," kata dr. Marshell.

Kendati demikian, Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD mewanti-wanti bahwa hasil manis tersebut berasal dari riset yang dipantau secara amat ketat.

Para peserta diwajibkan mematuhi menu makanan rendah kalori, rutin berolahraga, serta menjalani pengawasan medis yang disiplin dalam kurun waktu berbulan-bulan.

"Kalau kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan sedikit ada perbedaan, kalau kami tidak seketat penelitian itu," tegas dr. Ida pada kesempatan serupa.

Cara mengetahui apakah seseorang mengalami prediabetes.

Prediabetes pada umumnya tidak menunjukkan gejala yang khas.

Kondisi ini umumnya terdeteksi lewat uji gula darah, baik sewaktu medical check-up (MCU) maupun saat seseorang mengantongi faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga pengidap diabetes, hipertensi, atau minim beraktivitas fisik.

Dr. Ida menerangkan bahwa deteksi sejak dini menjadi pilar krusial agar masyarakat dapat mengambil tindakan korektif sebelum komplikasi berkembang.

Pemahaman yang utuh akan membantu publik mengenali ancaman faktor risiko, memicu tindakan cek medis berkala, serta menetapkan langkah kesehatan yang tepat.

Ia menyertakan bahwa program edukasi beserta pendampingan memegang andil besar dalam memandu seseorang mempertahankan perubahan gaya hidup sehat secara jangka panjang.

Langkah edukasi yang disampaikan dr. Ida ini menjadi bagian dari inisiatif Kalbe guna mempererat kolaborasi dalam mendampingi perjalanan penyandang diabetes dari fase pencegahan hingga penanganan jangka panjang.

"Diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan sejak memahami faktor risiko, menjalani deteksi dini, memulai terapi, hingga mengelola penyakit dalam jangka panjang,” tutur Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index