Destry Damayanti Soroti Tantangan Ekspor Saat CAD Melebar di 2026

Destry Damayanti Soroti Tantangan Ekspor Saat CAD Melebar di 2026
Gubernur BI Destry Damayanti.

JAKARTA - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti tantangan ekspor di tengah melebarnya neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada triwulan II 2026. Peningkatan kinerja ekspor dinilai menjadi salah satu agenda utama untuk memperkokoh sektor eksternal.

“Menjadi PR tentunya bagi kami semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga seluruh masyarakat kami adalah bagaimana agar ekspor kami bisa kami tingkatkan,” kata Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan catatan resmi, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 menyentuh angka 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini membengkak bila dibandingkan defisit triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen dari PDB).

Destry menjelaskan bahwa transaksi berjalan pada neraca pembayaran masih dibayangi defisit di pos neraca jasa serta pendapatan primer.

Kondisi tersebut menyebabkan transaksi berjalan kembali mengalami defisit pada triwulan II 2026, sementara neraca perdagangan tetap menghadapi tantangan dalam upaya mendongkrak ekspor barang ke depan.

“Jadi akhirnya ini menyebabkan yang kami alami sekarang ini di triwulan II, current account kami defisit, kembali ke defisit karena memang di trade balance kami mempunyai tantangan untuk ekspor barang ini yang perlu kami genjot ke depannya,” jelas Destry.

Ia menambahkan, defisit transaksi berjalan selama ini mampu ditutupi oleh neraca finansial, utamanya melalui arus modal foreign direct investment (FDI) yang cenderung stabil. Namun, investasi portofolio masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian khusus.

Sejalan dengan dinamika tersebut, BI mengarahkan fokus kebijakan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) demi memperkuat transmisi suku bunga agar tingkat bunga di pasar dapat lebih melandai.

Tingkat suku bunga SRBI saat ini mulai meluncur turun, sementara posisi outstanding SRBI berangsur menyusut dari level puncak mendekati Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun.

“Ini bertahap kami turunkan untuk menambah likuiditas dan supaya suku bunga di market itu lebih bisa terkendali dan align juga dengan suku bunga overnight kami,” jelas dia.

Destry mengingatkan bahwa penguatan daya tahan eksternal merupakan aspek vital untuk menopang pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. Di sisi lain, laju rupiah jangka pendek sangat dipengaruhi oleh persepsi atau sentimen pasar.

“Rupiah itu memang sangat dipengaruhi faktor yang jangka panjang, dan ini lebih fundamental. Tapi juga ada faktor yang jangka pendek, dan ini lebih sentimen,” kata dia.

Berbagai dinamika sentimen, termasuk perkembangan sentimen global, dapat memengaruhi pergerakan kurs rupiah. Ketika persepsi pasar membaik, nilai tukar rupiah berpeluang menguat secara cepat.

Destry memastikan bahwa BI akan memanfaatkan setiap peluang yang ada dan terus bersiaga di pasar demi menjaga stabilitas mata uang rupiah.

Sebagai informasi, Destry Damayanti yang kini mengemban amanat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI merupakan calon tunggal Gubernur BI yang diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI.

Penunjukan Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI dilakukan pascamundurnya Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI secara sukarela atas alasan pribadi pada 25 Juli 2026.

Pada hari yang sama, Komisi XI DPR RI turut menggelar uji kelayakan dan kepatutan bagi calon Deputi Gubernur Senior BI, Aida S. Budiman.

Sementara itu, proses fit and proper test untuk calon Deputi Gubernur BI dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8) dengan dua nama kandidat, yaitu Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index