Telkom Garap Koridor Kabel Bawah Laut Baru, Incar Investasi Global

Telkom Garap Koridor Kabel Bawah Laut Baru, Incar Investasi Global

ONLINEKINI.ID — Rencana itu disampaikan Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, di sela pembukaan Batic 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/2). Perusahaan pelat merah ini menargetkan posisi Indonesia bukan sekadar tujuan konektivitas, melainkan hub strategis di kawasan Asia Pasifik.

“Ambisinya adalah memposisikan Indonesia bukan hanya sebagai tujuan konektivitas, tetapi sebagai hub (penghubung) strategis di kawasan Asia Pasifik,” ujar Dian.

Krisis Geopolitik Buka Peluang Investasi

Ketegangan di Laut China Selatan dan krisis di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz serta Laut Merah, menjadi pemicu utama. CEO Telin, anak usaha Telkom, Abdul Rahman Ansyori, menilai dua situasi dunia itu justru membuka peluang bagi Indonesia sebagai tujuan alternatif kabel bawah laut.

Ia mencontohkan, kabel bawah laut Bifrost yang menghubungkan Manado ke Amerika Serikat menarik minat perusahaan asing. Sejumlah perusahaan dari AS disebutnya ingin menghindari jalur Laut China Selatan yang rawan konflik.

Kondisi serupa terjadi pada konektivitas negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh menuju AS. Jalur konvensional yang melewati Eropa dan Timur Tengah kini dianggap berisiko tinggi, sehingga perairan Indonesia menjadi alternatif langsung menuju benua Amerika.

Koridor Strategis ICE dan Ekspansi ke Empat Benua

Telkom menerjemahkan strategi ini melalui proyek Kabel Ekspres Indonesia (ICE) dengan memperkuat tiga jalur inti: intra-Asia, Trans-Pasifik, dan Asia-Eropa. Perusahaan juga menyiapkan ekspansi berikutnya ke koridor Eropa-Timur Tengah-Afrika, Trans-Atlantik, serta Amerika Serikat-Amerika Latin.

“Jadi tujuannya bukan sekadar membangun lebih banyak kabel tapi menciptakan jaringan koridor strategis yang terintegrasi, yang menjadikan Indonesia sebagai gerbang yang lebih kuat antara pasar Asia-Pasifik dan ekonomi digital global yang lebih luas,” kata Dian.

Diversifikasi jalur ini dinilai penting untuk memberikan kepastian dan daya tahan konektivitas global. Indonesia pun diyakini akan menarik lebih banyak investasi, mengingat proyek kabel bawah laut biasanya melibatkan konsorsium internasional.

Investasi Infrastruktur Digital Capai 20 Persen Pendapatan

Untuk mendukung ambisi ini, Telkom mengalokasikan sekitar 18-20 persen dari total pendapatan konsolidasi tahunan untuk investasi infrastruktur digital. Saat ini perusahaan sudah memiliki jaringan fiber optik sepanjang 545.011 kilometer, terdiri dari 115.844 kilometer domestik dan 429.167 kilometer internasional.

Telkom juga mengoperasikan 34 sistem kabel bawah laut internasional, dengan rincian 12 kabel melalui konsorsium dan 22 kabel milik sendiri. Infrastruktur pendukung lainnya mencakup 297.292 jaringan pemancar telekomunikasi, 44.799 tower, serta 36 pusat data global dan domestik.

Perusahaan juga memiliki tiga satelit dengan total kapasitas 42,2 gigabit per detik (Gbps) untuk memperkuat layanan konektivitasnya.

Dengan jaringan yang semakin luas, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci dalam rantai pasok konektivitas digital global, bukan sekadar pasar konsumen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index