BPOM Terbitkan Regulasi Adaptif Demi Pacu Inovasi Pengobatan Presisi

BPOM Terbitkan Regulasi Adaptif Demi Pacu Inovasi Pengobatan Presisi
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa penerapan regulasi yang adaptif merupakan bentuk aksi proaktif Indonesia untuk merespons kemajuan pengobatan presisi serta Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) agar dapat tumbuh dengan jaminan keamanan, efikasi, dan mutu.

Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa percepatan aturan hukum menjadi bagian vital dalam merancang ekosistem inovasi kesehatan yang sanggup menjawab kemajuan ilmu pengetahuan sekaligus pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Meski begitu, percepatan aturan tersebut tetap wajib beroperasi atas asas kehati-hatian serta pengawasan ketat demi menjamin seluruh produk yang dirilis telah memenuhi standar resmi yang berlaku.

“BPOM secara aktif mendukung inovasi dalam negeri melalui jalur regulasi khusus di setiap tahapan pengembangan produk, yang mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penilaian Produk Terapi Advanced dan Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2025 tentang Persetujuan Pengembangan Obat Baru,” ujar Taruna Ikrar.

Oleh sebab itu, BPOM gencar memacu sinergi antara lini pemerintah, regulator, dunia industri, akademisi, hingga fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkokoh ekosistem inovasi kesehatan di tingkat nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat komersialisasi hasil riset menjadi produk medis yang aman, bermutu, dan berdampak nyata bagi publik.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen pendukung transformasi kesehatan berbasis bioteknologi.

Ia menggarisbawahi pentingnya kemitraan strategis dengan sektor industri serta optimalisasi pemanfaatan sains, termasuk pengolahan data genomik lewat Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) guna memperkuat daya tahan kesehatan nasional sekaligus menyiapkan Indonesia dalam menyongsong teknologi kesehatan modern.

Gagasan ini dipaparkan Menkes pada agenda forum diskusi memperingati pendiri Kalbe Farma, Dr. Boenjamin Setiawan. Forum yang dihadiri 200 dokter, peneliti, akademisi, perwakilan instansi pemerintah, serta pemangku kepentingan bidang kesehatan tersebut membedah isu terkini mengenai precision medicine, immune cell therapy, dan gene editing, sekaligus mempererat koordinasi lintas sektor guna mempercepat aplikasi inovasi kesehatan berbasis penelitian di Indonesia.

Di samping itu, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady menegaskan bahwa pihaknya bakal konsisten menjadi bagian dari ekosistem yang menjembatani sains, inovasi, dan kerja sama agar modernisasi teknologi kesehatan dapat dirasakan langsung dampaknya oleh pasien maupun masyarakat Indonesia.

Berkat keikutsertaan BPOM pada forum ilmiah tersebut, sinergi antarinstansi diharapkan semakin solid dalam mengawal perkembangan teknologi kesehatan generasi mutakhir.

BPOM berkomitmen untuk selalu menyediakan regulasi yang adaptif serta responsif atas akselerasi ilmu pengetahuan, sembari terus menjaga agar tiap inovasi yang hadir tetap memenuhi kualifikasi keamanan, efikasi, dan kualitas demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index