Politeknik Pariwisata NHI Bandung Gelar Inspirational Talk, Dorong Talenta Pariwisata Berdaya Saing Global

Politeknik Pariwisata NHI Bandung Gelar Inspirational Talk, Dorong Talenta Pariwisata Berdaya Saing Global

ONLINEKINI.ID — Politeknik Pariwisata NHI Bandung menjadi tuan rumah Inspirational Talk bertajuk "Beyond Campus: Menjadi Talenta Pariwisata Berdaya Saing Global" secara hybrid, Kamis (17/9/2026). Forum ini mempertemukan sivitas akademika Poltekpar di lingkungan Kementerian Pariwisata dari berbagai wilayah Indonesia untuk membahas kesiapan SDM pariwisata menghadapi perubahan industri yang kian dinamis. Anggota DPR RI Komisi X Ferdiansyah dan Guru Besar Politeknik Pariwisata Bali Prof. Dr. Irene Hanna H. Sihombing hadir sebagai pembicara.

Forum ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk memetakan tantangan sekaligus peluang pembangunan sumber daya manusia pariwisata. Peserta tidak hanya diajak memperkuat kompetensi teknis, tetapi juga menimbang pentingnya karakter, integritas, etika, akuntabilitas, profesionalisme, kemampuan beradaptasi, dan wawasan global.

Dua Pembicara Utama dan Fokus Bahasan

Anggota DPR RI Komisi X Ferdiansyah, S.E., M.M. membawakan topik "Menyiapkan Generasi Muda Pariwisata Menuju Indonesia Emas: Peluang, Tantangan, dan Daya Saing Global". Komisi X membidangi sektor pendidikan, olahraga, sains, teknologi, riset, dan kebudayaan.

Dari sisi akademik, Prof. Dr. Irene Hanna H. Sihombing, S.E., M.M., CHE, Guru Besar Politeknik Pariwisata Bali bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, menyampaikan materi "Beyond Skills: Membangun Human Capital Pariwisata Masa Depan melalui Karakter, Integritas, dan Profesionalisme". Bidang kepakarannya mencakup manajemen hospitaliti dan sumber daya manusia di industri pariwisata.

Teknologi Berubah, Peran Manusia Tetap Kunci

Digitalisasi dan kecerdasan artifisial membawa perubahan besar pada industri pariwisata. Meski begitu, transformasi teknologi tidak menghapus peran manusia dalam rantai layanan.

Pengalaman wisata tetap bergantung pada kemampuan SDM memberikan pelayanan, menciptakan pengalaman bagi wisatawan, memahami kebutuhan pelanggan, menyelesaikan persoalan, membangun relasi, dan beradaptasi terhadap perubahan. Tantangan pengembangan SDM pariwisata karena itu bukan sekadar mencetak lulusan berskill, melainkan membentuk manusia yang mampu memadukan kompetensi dengan karakter dan nilai profesional.

Mahasiswa Poltekpar diharapkan memandang perubahan teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan bagian dari lingkungan profesional yang perlu dipahami dan dimanfaatkan. Kemampuan belajar berkelanjutan, beradaptasi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan memiliki wawasan global semakin menentukan daya saing tenaga kerja pariwisata.

Posisi Poltekpar sebagai Perguruan Tinggi Kementerian Lembaga

Salah satu isu strategis yang mengemuka adalah status Politeknik Pariwisata sebagai Perguruan Tinggi Kementerian Lembaga (PTKL) di bawah Kementerian Pariwisata. Posisi itu memberi karakter tersendiri bagi pendidikan vokasi pariwisata karena institusi pendidikan berada langsung dalam ekosistem kementerian yang menangani pembangunan sektor.

Kedekatan tersebut membuka ruang agar pendidikan vokasi pariwisata lebih responsif terhadap perkembangan sektor, arah pembangunan destinasi, kebutuhan industri, dan dinamika kompetensi tenaga kerja. Poltekpar tidak hanya dipandang sebagai pencetak lulusan, tetapi juga bagian dari ekosistem pembangunan pariwisata nasional.

Pendidikan, pengembangan kompetensi, riset, inovasi, dan kebutuhan sektor dapat terus dipertemukan. Dengan begitu, lulusan yang dihasilkan memiliki relevansi dengan tantangan nyata di lapangan.

Dari Siap Kerja Menuju Pemimpin Sektor

Melalui forum ini, mahasiswa didorong tidak berhenti pada orientasi menjadi lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Mereka diharapkan mempersiapkan diri menjadi talenta pariwisata yang mampu tumbuh, berkontribusi, dan pada saatnya mengambil peran kepemimpinan dalam pembangunan pariwisata Indonesia.

Kompetensi teknis tetap menjadi fondasi pendidikan vokasi. Namun, kompetensi itu perlu berjalan beriringan dengan integritas, etika, akuntabilitas, profesionalisme, kepemimpinan, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Reputasi profesional juga perlu mulai dibangun sejak mahasiswa menempuh pendidikan. Semangat "Beyond Campus" menegaskan bahwa kesiapan kerja tidak hanya dibentuk lewat pembelajaran dan praktik di kampus, tetapi juga melalui pemahaman atas arah pembangunan sektor pariwisata, perkembangan dunia kerja, perubahan teknologi, serta kemampuan membangun kepercayaan sebagai seorang profesional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index