Mendag Budi Santoso Dorong Indonesia dan India Perkuat Perdagangan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:38:31 WIB
Mendag Budi Santoso dan Menteri Perdagangan India Piyush Goyal membahas penguatan hubungan perdagangan bilateral lewat percepatan kerja sama dan investasi.

JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso bersama Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal mendiskusikan penguatan jalinan perdagangan bilateral melalui percepatan kerja sama, perluasan akses pasar, hingga peningkatan investasi antarkedua negara.

Mendag RI mengutarakan bahwa India merupakan mitra dagang strategis di kawasan Asia Selatan yang mengantongi potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Langkah penguatan kerja sama ini diyakini bakal memberi keuntungan berlipat bagi pelaku usaha kedua pihak sekaligus memperkokoh ketahanan rantai pasok regional.

"Indonesia mendukung terciptanya perdagangan yang semakin terbuka, fasilitatif, dan saling menguntungkan, sehingga mampu mendorong peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Dalam ajang pertemuan di sela agenda BRICS Tingkat Menteri Perdagangan di Jaipur, India, Jumat (7/8), kedua menteri merembukkan pelaksanaan Working Group on Trade and Investment (WGTI) antara Indonesia dan India.

Pihak Indonesia menyampaikan dukungan penuh atas penunjukan India sebagai tuan rumah gelaran WGTI kedua pada tahun 2026, yang mana hal ini menjadi tindak lanjut dari Pernyataan Bersama pimpinan kedua negara saat kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 7 Juli 2026.

Di samping itu, kedua belah pihak turut mencermati perkembangan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Indonesia kembali menegaskan komitmen dukungannya terhadap target penyelesaian perundingan pada tahun 2026 dengan tetap mengedepankan hasil yang lebih praktis, ramah dunia usaha, serta efektif memfasilitasi transaksi perdagangan.

Budi menerangkan bahwa Indonesia berkomitmen menuntaskan target liberalisasi akses pasar sebesar 80 persen sesuai kesepakatan dalam perundingan AITIGA Review. Angka target tersebut melonjak siginifikan dari tingkat liberalisasi Indonesia saat ini yang berada di kisaran 41,9 persen.

Sampai dengan Juli 2026, pihak Indonesia telah menyodorkan penawaran akses pasar secara bertahap yang kini mencakup sekitar 57 persen dari keseluruhan target.

Pada kesempatan tersebut, Budi menyampaikan apresiasi atas respons positif Pemerintah India terhadap usulan pembentukan Indonesia-India Preferential Trade Agreement (ID-IN PTA).

Menurutnya, skema perjanjian dagang bilateral tersebut bakal melengkapi keberadaan AITIGA dengan menyediakan jangkauan pasar yang jauh lebih lapang, mengikis hambatan nontarif, serta memperkuat sistem fasilitasi perdagangan.

Budi menaruh harapan agar pembahasan teknis seputar ID-IN PTA sanggup dimulai sesegera mungkin usai Reviu AITIGA membuahkan konklusi substantif yang dibidik rampung pada Oktober 2026.

Sepanjang kurun Januari hingga Juni 2026, total nilai perdagangan kedua negara berhasil menembus 11,89 miliar dolar AS, dengan kontribusi ekspor Indonesia sebesar 9,28 miliar dolar AS dan impor sebesar 2,60 miliar dolar AS, sehingga Indonesia mengantongi surplus neraca dagang hingga 6,68 miliar dolar AS.

Sementara itu, akumulasi perdagangan kedua negara pada tahun 2025 sempat menyentuh angka 23,13 miliar dolar AS, lewat catatan ekspor Indonesia sebesar 18,30 miliar dolar AS dan impor senilai 4,84 miliar dolar AS yang menghasilkan surplus sebesar 13,46 miliar dolar AS.

Sektor ekspor andalan Indonesia ke India melingkupi batu bara, minyak kelapa sawit, baja nirkarat, asam lemak monokarboksilat industri, hingga bahan korundum buatan. Sebaliknya, komoditas impor Indonesia dari India didominasi oleh pasokan daging kerbau, kacang tanah, armada kendaraan pengangkut barang, komponen traktor, serta komoditas tembakau mentah.

Terkini