ESDM Sebut Train 1 BP Tangguh Selesai Diperbaiki dan Kembali Normal

ESDM Sebut Train 1 BP Tangguh Selesai Diperbaiki dan Kembali Normal
Ilustrasi Api berkobar di atas cerobong asap di sebuah kilang LNG.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwasanya Train 1 Kilang Tangguh yang dikelola oleh BP Berau Ltd sempat menghadapi kendala teknis, tetapi saat ini hambatan operasional tersebut dipastikan telah selesai diperbaiki.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa pembenahan Train 1 tersebut berhasil dirampungkan pada Juli 2026. Kendati demikian, ia tidak merinci bentuk masalah operasional yang sempat terjadi.

Laode pun tidak memberikan konfirmasi apakah proses perbaikan tersebut berhubungan langsung dengan agenda perawatan berkala (turn around) atau tidak.

“Sudah aman [Train-1 Tangguh], yang paling penting itu adalah bagaimana menjaga kargo-kargo itu terpenuhi semua. Untuk PLN, untuk Pupuk itu yang penting, jadi sudah tidak ada masalah. Ontime, sudah [Juli rampung],” kata Laode kepada awak media, usai Peluncuran dan Diskusi Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Ia turut menegaskan bahwa komitmen pengiriman pasokan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) dari Kilang Tangguh tetap terjamin, meskipun sempat diwarnai gangguan teknis.

“Tapi yang jelas bagi kami itu yang paling penting adalah komitmen untuk kargo dalam negeri tetap terpenuhi, tidak ada kekurangan, itu yang paling penting. Jadi kita jangan melihat masalahnya kapan sih, tapi komitmen kargonya terjaga semua,” ungkap dia.

Pada kesempatan terpisah sebelumnya, pihak BP telah memproyeksikan laju produksi dari Kilang Tangguh bakal mengalami penyusutan sekitar 10,1 standar kargo LNG pada tahun ini.

Head of Country BP Indonesia Hardi Hanafiah menjelaskan bahwa penurunan volume produksi tersebut dipicu oleh jadwal perawatan atau turn around pada unit Train 1.

“Dari segi produksi pada 2026 akan ada pengurangan sedikit karena pelaksanaan turn around Train-1 atau servis Train-1 pengurangannya sekitar 10,1 standar kargo,” kata Hardi saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII di DPR, Jakarta, Selasa (1/7/2025).

Hardi membeberkan bahwa sejumlah alokasi biaya awal untuk program perawatan Train 1 tersebut telah direalisasikan sejak tahun 2025, yang tecermin dari kenaikan biaya produksi per ekuivalen barel menuju level 3,93 dolar AS.

“Ada sedikit peningkatan cost, tapi bukan karena reliability atau masalah di Train-3,” kata Hardi.

Hardi menyampaikan bahwa BP saat ini tengah menjalani fase penyesuaian untuk operasional Train 1 dan Train 2 mengingat usianya yang telah menginjak 15 tahun. Di samping itu, BP juga terus meningkatkan keandalan produksi dari Train 3 yang tergolong baru beroperasi sejak April 2024.

“Kami berusaha menghindari hambatan-hambatan teknis agar bisa mencapai produksi 100%,” kata dia.

Tangguh LNG sendiri merupakan proyek pengembangan terpadu yang bersumber dari enam lapangan gas di area KKS Wiriagar, Berau, dan Muturi yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Pihak BP telah mengantongi izin perpanjangan kontrak hingga tahun 2055 berdasarkan kesepakatan resmi bersama pemerintah pada tahun 2022, dari yang semula dijadwalkan berakhir pada 2035.

Pada tahun lalu, BP mencatatkan capaian lifting gas dari Kilang Tangguh sebesar 1,57 bcf per hari untuk periode hingga 31 Mei 2025.

Selain itu, BP membukukan total produksi sebanyak 78 standar kargo LNG per 31 Mei 2025, dari target tahunan yang dipatok sebesar 180,4 standar kargo LNG.

Adapun cadangan gas di kawasan tersebut pertama kali ditemukan pada era pertengahan 1990-an oleh Atlantic Richfield Co (ARCO). Operasional produksi Tangguh dimulai pada tahun 2009 atau empat tahun usai mengantongi persetujuan resmi pemerintah.

Proyek Tangguh LNG dioperasikan sepenuhnya oleh BP Berau Ltd (100 persen kepemilikan BP). Sejumlah entitas afiliasi BP yang turut mengembangkannya meliputi BP Muturi Holdings BV, BP Wiriagar Ltd, serta Wiriagar Overseas Ltd, yang menempatkan BP memegang 40,22 persen porsi kepemilikan di Tangguh LNG.

Adapun jajaran mitra kerja lainnya terdiri atas MI Berau BV (16,30 persen), CNOOC Muturi Ltd (13,90 persen), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23 persen), KG Berau Petroleum Ltd (8,56 persen), KG Wiriagar Petroleum Ltd (1,44 persen), serta Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35 persen).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index