Pertambangan Kuartal II Kontraksi ESDM Sebut Penerimaan Negara Aman

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:43:01 WIB
Ilustrasi Pertambangan nikel.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim bahwasanya penerimaan negara dari sektor pertambangan tetap berada dalam kondisi aman dan terjaga, kendati kinerja sektor usaha pertambangan sempat mengalami kontraksi pada kuartal II 2026.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan bahwa setoran dari royalti maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor minerba tidak terganggu, sekalipun volume produksi minerba terpantau menurun.

Kendati demikian, Tri tidak membeberkan secara rinci mengenai akumulasi setoran negara dari sektor minerba yang telah dikumpulkan sepanjang semester I 2026.

“Bukan, yang jelas kalau misalnya dari sisi royalti, karena dari sisi penerimaan kan enggak begitu selisih. Itu poinnya, tapi kalau dari sisi produksi ukurnya ya pasti turun,” kata Tri kepada awak media, usai Peluncuran dan Diskusi Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026) malam.

Lebih lanjut, ia turut memastikan bahwasanya Kementerian ESDM bakal menyetujui sejumlah permohonan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) minerba. Untuk komoditas nikel, penyesuaian kuota produksi dalam RKAB diprioritaskan guna memenuhi kebutuhan pasokan bijih ke fasilitas smelter.

“Ya disesuaikan, pokoknya disesuaikan sama smelter yang ada,” ujar Tri.

Sementara untuk komoditas batu bara, persetujuan atas revisi RKAB bakal difokuskan guna menjamin ketersediaan batu bara kualitas medium untuk kebutuhan operasional PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

“Ada, tapi tujuannya untuk gimana caranya supaya PLN dapat [batu bara kualitas] yang medium,” ungkap dia.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa kontraksi yang dialami sektor pertambangan pada kuartal II 2026 sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemangkasan kuota produksi pada dokumen RKAB 2026.

Wakil Ketua Umum Bidang Keanggotaan Kadin Widiyanto Saputro memberi gambaran bahwa pemotongan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi kisaran 260 hingga 270 juta ton berpotensi memicu hilangnya ekspor produk olahan nikel sekitar 3,5 sampai 5 juta ton.

Meskipun demikian, Widiyanto mengaku tetap optimistis sektor pertambangan sanggup bangkit dan tumbuh positif pada sisa kuartal tahun berjalan.

Apalagi, Kementerian ESDM telah memberi ruang pengajuan revisi kuota produksi RKAB pada periode 1 hingga 31 Juli 2026.

“Salah satu poin yang menjadi tiga besar isu yang disuarakan oleh dunia usaha itu memang terkait dengan hal ini [pemangkasan RKAB],” kata Widiyanto dalam Grand Seminar Mining Hipmi, Kamis (6/8/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang menyentuh angka 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud menjelaskan bahwa seluruh sektor usaha mencatatkan pertumbuhan positif, kecuali lapangan usaha pertambangan yang mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen yoy.

Sektor pertambangan terdaftar menyumbang porsi hingga 8,87 persen terhadap struktur pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang kuartal II 2026.

Menurut penuturan Edy, kontraksi pada sektor pertambangan dipicu oleh penurunan laju produksi pada komoditas bijih bauksit, timah, serta nikel.

Ia juga mencatat proses pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) yang belum sepenuhnya tuntas turut memicu terjadinya kontraksi tersebut.

Adapun lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi dominan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencakup industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan dengan total peranan mencapai 63,73 persen.

Sektor yang mencatatkan pertumbuhan paling tinggi yakni pengadaan listrik dan gas sebesar 10,81 persen, disokong oleh tingginya tingkat penjualan listrik ke seluruh segmen konsumen, khususnya ranah rumah tangga, bisnis, serta industri.

Berikutnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,6 persen berkat lonjakan okupansi hotel dan kinerja bisnis jasa boga, seiring makin meluasnya jangkauan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lalu, industri informasi dan komunikasi turut merangkak naik dipicu perluasan pemanfaatan layanan telekomunikasi pada ragam sektor seperti kesehatan, pendidikan, hingga perdagangan.

Di lain sisi, Kementerian ESDM memang memangkas target produksi batu bara tahun ini dalam RKAB 2026 menjadi kisaran 600 juta ton, atau turun drastis dari realisasi produksi tahun 2025 yang sempat menyentuh 817,48 juta ton.

Begitu pula dengan target kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 yang dipatok sebesar 260 hingga 270 juta ton, di mana angka ini merosot signifikan jika disandingkan dengan capaian produksi bijih nikel sepanjang 2025 sebesar 320,37 juta ton.

Terkini