JAKARTA - Karakter orang yang suka membandingkan orang lain kerap kali tecermin secara jelas dari cara mereka memberikan penilaian terhadap individu di sekitarnya. Kebiasaan ini mungkin terkesan sepele jika terjadi sesekali, namun bila dilakukan secara berulang, dampaknya dapat mencederai hubungan sosial dan kondisi psikologis sasaran perbandingan.
Melansir Psychology Today, kecenderungan membandingkan sebetulnya merupakan fenomena psikologis yang wajar. Berdasarkan Social Comparison Theory yang digagas oleh psikolog Leon Festinger, manusia secara alami cenderung mengukur kemampuan, capaian, serta kondisi diri mereka dengan menyandingkannya bersama orang lain.
Tindakan membandingkan tidak selamanya membawa dampak buruk. Dalam situasi tertentu, seseorang dapat memanfaatkannya sebagai pecut motivasi untuk bertumbuh. Akan tetapi, ketika kebiasaan ini bergeser menjadi alat untuk menghakimi atau mengkritik orang lain, keharmonisan hubungan interpersonal dapat terganggu.
Karakter Orang yang Suka Membandingkan Orang Lain
Terdapat beberapa kebiasaan yang umumnya melekat pada diri orang yang gemar membandingkan orang lain:
Menjadikan Orang Lain Sebagai Tolok Ukur
Merujuk penjelasan Love and Abuse, salah satu karakter yang paling menonjol adalah menjadikan sosok lain sebagai parameter penilaian utama. Alih-alih mengapresiasi seseorang sebagai individu unik dengan prosesnya sendiri, mereka cenderung menilai berdasarkan capaian, keunggulan, atau kualitas pihak luar.
Sering Mengkritik Lewat Perbandingan
Karakter berikutnya terlihat dari pola penyampaian kritik yang selalu dibumbui perbandingan. Sebagai contoh, membandingkan pasangan dengan mantan kekasih, anak dengan saudaranya, atau rekan kerja dengan sejawat lain. Skema ini kerap dipakai untuk menyampaikan celaan yang berpotensi melukai perasaan.
Memiliki Standar yang Terus Berubah
Love and Abuse turut memaparkan bahwa orang yang gemar membandingkan umumnya menetapkan standar yang tak masuk akal. Ketika seseorang berhasil memenuhi kriteria yang diminta, mereka akan mencari figur baru untuk dijadikan tandingan, sehingga pihak yang dibandingkan merasa tak pernah cukup baik.
Mengapa Orang Suka Membandingkan Orang Lain?
Menurut Psychology Today, membandingkan merupakan sarana bagi manusia untuk mengevaluasi diri. Teori tersebut mengenal istilah upward comparison, yakni membandingkan diri dengan figur yang dianggap lebih unggul, yang dapat memicu motivasi sekaligus berisiko menyulut rasa iri hati.
Sebaliknya, terdapat pula downward comparison, yaitu membandingkan diri dengan pihak yang dinilai berada di bawahnya. Metode ini sanggup mendongkrak rasa percaya diri, tetapi berisiko membuat seseorang memandang rendah orang lain.
Pada dasarnya, perbandingan memberikan kemanfaatan jika dipakai sebagai pendorong kemajuan diri. Namun, faedah tersebut akan sirna ketika perbandingan difungsikan untuk menghakimi, merendahkan, atau merusak harga diri orang lain.
Dampak Kebiasaan Membandingkan Orang Lain
Individu yang terus-menerus dijadikan objek perbandingan berisiko mengalami tekanan emosional, seperti rasa sedih, kecewa, amarah, hingga krisis kepercayaan diri. Dalam jangka panjang, mereka dapat terus meragukan potensi diri akibat tuntutan standar yang terus berubah.
Oleh sebab itu, jika ingin menyampaikan masukan atau rasa kecewa, alangkah baiknya bila dikomunikasikan secara terbuka dan lugas. Pendekatan langsung ini membantu membangun pola hubungan yang jauh lebih sehat tanpa perlu menjadikan pihak lain sebagai pembanding.