JAKARTA - Bagi mayoritas orang tua, terkhusus kaum ibu, batas jam kerja dengan waktu mengasuh buah hati saat ini kerap berjalan secara beriringan. Kondisi ini terjadi bukan lantaran mereka enggan fokus saat berkarir, melainkan akibat kian sulitnya memisahkan urusan pekerjaan, pengasuhan anak, kebutuhan logistik sekolah, serta kewajiban rumah tangga ke dalam sekat yang terpisah.
Hasil survei termutakhir dari Pew Research Center menguraikan bahwa garis batas antara dunia kerja dan kehidupan domestik semakin kabur bagi sebagian besar orang tua pekerja di Amerika Serikat. Sebagaimana dilansir Today Parents, sebanyak tujuh dari sepuluh orang tua mengakui menyelingi jam kerja untuk mengurus anak, sementara 59 persen lainnya menggarap tugas kantor di kala sedang mendampingi anak-anak mereka. Lebih dari separuh responden, yaitu 54 persen, menyatakan kewalahan dalam menyelaraskan tanggung jawab pekerjaan dan urusan keluarga.
Data riset ini dihimpun berdasarkan survei terhadap 2.242 orang tua bekerja pada Maret 2026.
Temuan utamanya terasa sangat karib bagi banyak keluarga. Walau secara formal sedang menuntaskan jam kerja, para orang tua tetap dituntut memikirkan jadwal penjemputan, kondisi anak saat sakit, berkas sekolah, kegiatan ekstra, hingga manajemen pengasuhan di balik layar. Tekanan ganda ini paling kentara dirasakan oleh para ibu. Pew mengemukakan bahwa 62 persen ibu pekerja penuh waktu merasa kesulitan menyeimbangkan karir dan keluarga, ketimbang 47 persen pada kalangan ayah.
Temuan Utama dalam Riset
Beberapa poin krusial dari laporan penelitian ini antara lain:
70 persen orang tua bekerja mengaku menangani urusan pengasuhan anak saat sedang bekerja.
59 persen mengaku mengerjakan tugas pekerjaan saat sedang bersama anak-anak.
52 persen orang tua bekerja penuh waktu mengaku pekerjaan mereka membuat lebih sulit menjadi orang tua yang baik.
45 persen mengaku menjadi orang tua membuat mereka lebih sulit berkembang dalam karier.
Pew turut mendapati bahwa para ibu jauh lebih sering mengalami tumpang tindih peran ini dibandingkan para ayah. Kurang lebih 81 persen ibu yang bekerja secara penuh waktu mengonfirmasi setidaknya pernah mengurus kebutuhan anak di tengah-tengah jam kerja mereka.
Hal yang semakin menonjol, sebanyak 38 persen di antaranya mengaku amat sering melakoninya, di mana angka tersebut mencapai hampir dua kali lipat dibanding persentase ayah yang menyatakan hal serupa. Sisi emosional dari fenomena ini pun terlihat sangat jelas. Enam dari sepuluh orang tua berstatus pekerja penuh waktu merasa memiliki alokasi waktu yang sangat minim bersama buah hati mereka, dan hampir separuhnya mengakui bahwa beban pekerjaan terkadang membuat mereka terpaksa melewatkan momen penting anak, seperti pentas seni sekolah ataupun pertandingan olahraga. Para ibu terbukti lebih mudah merasa bersedih saat terpaksa melewatkan momen-momen tersebut lantaran urusan pekerjaan jika dibandingkan dengan para ayah.
Ibu Masih Menanggung Lebih Banyak Beban di Rumah
Laporan riset ini juga memaparkan fenomena ketimpangan domestik yang acap kali menjadi pemicu perdebatan terselubung antarpasangan. Dalam rumah tangga heteroseksual di mana kedua pihak sama-sama bekerja penuh waktu, 52 persen mengonfirmasi bahwa pihak ibu memikul beban pengasuhan anak lebih dominan, sedangkan hanya 10 persen yang menyebut pihak ayah menanggung porsi lebih banyak.
Situasi demikian bukan berarti mengindikasikan para ibu memiliki komitmen yang rendah terhadap karir profesional mereka. Malah sebaliknya, data ini menegaskan betapa seringnya ibu dituntut untuk tetap berdedikasi penuh pada pekerjaan kantor, seraya tetap mengemban porsi terbesar dari beban pengasuhan harian di rumah.
Riset terdahulu yang pernah disoroti oleh Clayman Institute for Gender Research dari Stanford University mengungkapkan bahwa para ibu memperlihatkan tingkat kesungguhan kerja yang setara dengan para ayah maupun pekerja tanpa anak, bahkan berpeluang lebih terfokus pada pekerjaan mereka dibanding para ayah.
Pew juga menemukan bahwa fleksibilitas di lingkungan kerja masih belum terjamin sepenuhnya. Di antara kelompok orang tua pekerja penuh waktu yang bukan berstatus wirausaha, hanya 24 persen yang menyatakan mempunyai fleksibilitas tinggi untuk bekerja dari rumah sewaktu dibutuhkan. Bagi orang tua dari kelompok berpenghasilan rendah, akses terhadap cuti berbayar, tunjangan, serta jaminan asuransi kesehatan dari tempat kerja bahkan berada dalam kondisi yang jauh lebih tidak pasti.
Secara menyeluruh, temuan ini mencerminkan potret para orang tua yang gigih memenuhi tuntutan karir sembari memastikan seluruh urusan keluarga yang tak kasat mata tetap berjalan dengan baik. Bagi banyak ibu, permasalahan utamanya bukanlah terletak pada dedikasi mereka sebagai tenaga kerja, melainkan pada sistem di sekitar dunia kerja dan pengasuhan anak yang masih membebankan tanggung jawab lebih besar pada kedua ranah tersebut secara bersamaan.