Ekspor Jabar Surplus US$13,76 Miliar Berkat Pasar Hong Kong

Jumat, 07 Agustus 2026 | 21:50:32 WIB
Bongkar muat barang di terminal peti kemas Pelabuhan [FOTO: NET].

JAKARTA - Kinerja ekspor Jawa Barat terus memperlihatkan penguatan pada paruh pertama 2026. Di antara deretan negara tujuan, Hong Kong mencatatkan lonjakan permintaan paling tinggi dengan pertumbuhan menembus lebih dari 104 persen, sekaligus menjadi sinyal terbukanya peluang pasar baru bagi produk-produk unggulan asal Jawa Barat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Nining Yuliastiani memaparkan, nilai ekspor Jawa Barat sepanjang Januari–Juni 2026 menyentuh US$19,6 miliar, sementara angka impor tercatat US$5,81 miliar. Dengan capaian itu, Jawa Barat berhasil membukukan surplus neraca perdagangan mencapai US$13,76 miliar.

"Masih terjadi peningkatan dibanding dengan kinerja tahun kemarin pada posisi yang sama," ujar Nining, Jumat (7/8/2026).

Menurut penjelasannya, ekspor nonmigas Jawa Barat pada Juni 2026 terangkat 6,45 persen bila dibandingkan Mei 2026. Secara akumulatif sepanjang Januari–Juni 2026, pengiriman nonmigas ke 14 negara tujuan utama turut tumbuh 6,43 persen. Hong Kong bertindak sebagai pasar dengan lonjakan tertinggi, yakni melampaui 104 persen. Di samping itu, pengiriman ke China meningkat 26,66 persen serta Taiwan merangkak naik 22,25 persen.

"Masih ada potensi yang kami optimistis bisa ditingkatkan lagi," katanya.

Nining menerangkan, kenaikan angka ekspor ini disokong oleh membaiknya permintaan terhadap produk komoditas pertanian seperti kopi, teh, kakao, serta produk hortikultura. Di saat bersamaan, ekspor sektor industri pengolahan ikut tumbuh 5,07 persen sehingga memperkokoh kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat.

Kendati demikian, ia tidak menampik masih ada ganjalan, terutama tingginya ketergantungan sektor industri pada bahan baku impor. Situasi tersebut memicu Jawa Barat tetap mengalami defisit perdagangan dengan China dan Taiwan meskipun volume ekspor ke dua negara itu meningkat.

Menurut Nining, mayoritas impor dari kedua negara tersebut berbentuk bahan baku dan barang modal yang dimanfaatkan untuk menopang denyut industri manufaktur di Jawa Barat.

"Solusinya pasti harus kami mengupayakan adanya substitusi untuk produksi lokal terkait kebutuhan bahan baku. Mau enggak mau kami harus mengurangi ketergantungan terhadap impor dari Tiongkok," tegasnya.

Disperindag Jabar optimistis tren positif ekspor ini bakal bertahan sampai penutupan tahun. Keyakinan tersebut ditopang oleh membaiknya denyut manufaktur nasional yang tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi.

"Kalau melihat tren Januari sampai Juni, posisi kita relatif stabil dan cenderung meningkat dibanding tahun lalu. Saya melihat prospek sampai akhir 2026 masih cukup bagus," ujar Nining.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tambahnya, bakal berkesinambungan menggenjot para pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar ekspor, termasuk menangkap peluang di negara-negara yang memperlihatkan pertumbuhan permintaan tinggi seperti Hong Kong, sembari mendongkrak mutu produk agar sanggup bersaing di ranah internasional.

Terkini