JAKARTA - Lupa tempat menaruh barang, mendadak sulit berkonsentrasi, atau harus membaca kalimat yang sama berulang kali demi bisa memahaminya, adalah keluhan yang sangat umum terjadi pada perempuan yang sudah menopause.
Kondisi yang kerap disebut sebagai kabut otak (brain fog) ini kerap memicu kekhawatir berlebih karena sering disalahartikan sebagai awal mula kepikunan atau tanda kerusakan fungsi kognitif yang parah.
Padahal, kesulitan fokus dan mudah lupa pada masa transisi tersebut bukanlah indikasi kerusakan otak permanen. Hal tersebut murni merupakan respons alami tubuh terhadap fluktuasi hormon yang terjadi secara besar-besaran.
Masyarakat umumnya hanya mengaitkan menopause dengan gejala fisik sesaat, seperti sensasi panas mendadak pada tubuh atau produksi keringat berlebih pada malam hari. Nyatanya, otak juga sedang mengalami transformasi yang sama besarnya.
Fase pramenopause mengubah tingkat energi di dalam otak, konektivitas materi putih, hingga aktivitas hormon estrogen di area hipokampus. Hipokampus adalah pusat kendali yang membantu manusia belajar dan mengingat.
Pergeseran neurologis inilah yang memengaruhi kelancaran pola tidur, kemampuan mengambil keputusan, hingga regulasi emosi harian.
"Pergeseran hormon ini biasanya mencakup penurunan progesteron terlebih dahulu, yang dapat menyebabkan masalah tidur, perubahan suasana hati, peningkatan kecemasan, dan perubahan siklus menstruasi wanita," jelas pimpinan klinis di Respin Health, dr. Sarah de la Torre.
Penurunan tingkat estrogen kemudian akan menyusul, di mana dampaknya langsung memengaruhi suasana hati, memicu nyeri sendi, dan menurunkan kemampuan kognisi.
Ketika volume estrogen menyusut, sangat wajar jika perempuan mengalami penurunan kejernihan mental untuk sementara waktu. Meski kinerjanya menurun, otak dibekali kemampuan bawaan untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru yang disebut neuroplastisitas.
"Neuroplastisitas menawarkan cara untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kesehatan kognitif selama fase pramenopause, menopause, hingga masa setelahnya," ungkap dr. de la Torre.
"Otak memiliki kemampuan seumur hidup untuk mengatur ulang dirinya sendiri, membentuk koneksi saraf baru, serta memperkuat koneksi yang sudah ada saat merespons pengalaman baru," lanjut dia.
Artinya, otak tidak hanya diam menanggung efek menopause, melainkan aktif meresponsnya. Melalui penerapan ragam kebiasaan yang tepat, perempuan dapat memulihkan kondisi brain fog tersebut.
Cara termudah memulihkan otak adalah melalui gerakan tubuh. Aktivitas fisik rutin akan merangsang pelepasan protein khusus yang berfungsi mendorong pertumbuhan serta perlindungan sel-sel saraf.
"Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, yang menjaga saraf tetap sehat, dan bahkan dapat mendorong pertumbuhan saraf baru," jelas dr. de la Torre.
Selain aktif bergerak, istirahat malam bukan sekadar sarana memejamkan mata, melainkan waktu perbaikan saraf yang penting. Selama fase tidur, otak sibuk membersihkan racun dan membangun ingatan.
"Tidur sangat penting untuk konsolidasi memori dan fungsi otak secara keseluruhan," terang dr. de la Torre.
Makanan yang dikonsumsi juga berperan dalam menjaga ketajaman ingatan. Kandungan asam lemak omega-3, antioksidan, lemak sehat, serta aneka sayuran hijau membantu menutrisi otak.
"Nutrisi adalah fondasi dari seluruh kesehatan kami, dan itu termasuk kesehatan otak kami," kata dr. de la Torre.
Menantang diri sendiri dengan mempelajari keterampilan baru atau rajin membaca buku akan melatih ketahanan kognitif. Begitu pula dengan menjaga kehidupan sosial yang terbukti sama ampuhnya dalam melindungi memori.
Menurut dr. de la Torre, orang yang memiliki koneksi sosial positif berpeluang lebih besar mencapai peningkatan fungsi kognitif dan kesejahteraan emosional.
Hal terakhir yang tidak boleh diabaikan adalah mengelola stres. Ketegangan berlarut-larut berisiko menyusutkan ukuran hipokampus, sehingga latihan pernapasan serta menjaga rutinitas menenangkan sangat dianjurkan demi menjaga fungsi otak.