JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menilai instrumen Merah Putih Bond berpotensi memperdalam pasar keuangan nasional.
“Merah Putih Bond berpotensi memperdalam pasar keuangan apabila benar-benar menciptakan sumber pembiayaan jangka panjang baru di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kredit perbankan, dan Surat Berharga Negara (SBN),” kata Rizal di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Rizal menyebut instrumen ini dapat menarik dana pensiun, asuransi, investor institusi, hingga dana masyarakat untuk masuk ke berbagai proyek strategis dan produktif. Potensi instrumen ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada dana jangka pendek maupun pembiayaan eksternal.
Namun, ia menegaskan bahwa pendalaman pasar tidak boleh sekadar diukur dari nominal dana yang terhimpun. Kunci utamanya terletak pada perluasan basis investor, peningkatkan likuiditas pasar sekunder, penurunan biaya modal, serta penambahan pembiayaan yang produktif.
“Jika underlying project tidak jelas, arus kas lemah, dan tata kelola tidak transparan, Merah Putih Bond justru berisiko hanya memindahkan dana dari SBN atau obligasi korporasi lain, sehingga efek pendalaman pasar menjadi semu,” ujarnya menambahkan.
Terkait insentif, Rizal menyarankan pemberian tarif pajak kupon yang kompetitif, fasilitas market maker, perlakuan prudensial proporsional, serta standar transparansi pelaporan proyek yang ketat.
“Namun, pemerintah tidak seharusnya memberikan jaminan terselubung, memaksa BUMN membeli, atau menciptakan privilese berlebihan karena dapat menimbulkan dan berpotensi moral hazard dan kewajiban kontinjensi bagi fiskal,” katanya.
Secara keseluruhan, ia menekankan bahwa daya tarik instrumen ini tetap bergantung pada kualitas proyek, kredibilitas penerbit, struktur risiko yang jelas, serta imbal hasil yang kompetitif di pasar.