JAKARTA - Strategi penyehatan fundamental PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) kini memasuki babak baru seiring mencuatnya rencana pemerintah untuk menggeser arah bisnis perseroan. Dalam skenario tersebut, BUMN konstruksi ini bakal diarahkan beralih fokus dari jasa konstruksi menjadi pengelola atau operator jalan tol.
Opsi banting setir ini dinilai sebagai solusi untuk melepaskan perseroan dari jebakan krisis likuiditas arus kas. Kendati demikian, perubahan portofolio ini menghadirkan kalkulasi keuntungan dan kerugian yang cukup kontras bagi struktur keuangan WSKT.
Di satu sisi, pengalihan fokus sebagai operator bakal memperkuat arus kas perseroan lewat penerimaan tarif tol secara berkala tanpa harus terus-menerus memburu proyek konstruksi berisiko tinggi.
Namun di sisi lain, skenario ini menuntut WSKT memiliki ketahanan finansial yang kokoh guna menanggung beban restrukturisasi aset serta biaya pemeliharaan konsesi yang tidak sedikit.
Dalam perkembangannya, manajemen Waskita Karya mengonfirmasi bahwa pihaknya belum mengantongi petunjuk teknis resmi terkait rencana transformasi tersebut.
Direktur Operasi I PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) Ari Asmoko mengaku belum bisa memberikan tanggapan lebih jauh mengingat rencana itu masih dibahas intensif bersama BP BUMN dan BPI Danantara.
“Belum, belum ada arahan [lanjutan],” ujarnya singkat kepada Bisnis saat ditemui di Kantor Waskita Heritage usai agenda Coffee Morning bersama Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), dikutip Jumat (7/8/2026).
Ari menambahkan, penjelasan resmi berikutnya bakal disampaikan langsung oleh Direktur Utama WSKT, Muhammad Hanugroho.
Sebelum rencana peralihan menjadi operator jalan tol ini mengemuka, manajemen WSKT sebenarnya telah merumuskan pemfokusan ulang lini bisnis sebagai bagian dari program penyehatan. Dalam rencana sebelumnya, WSKT justru berniat melepas seluruh portofolio konsesi tol yang dimilikinya.
Rencana pelepasan tersebut sempat dipaparkan oleh Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Hanugroho pada Rabu (5/3/2025). Sosok yang akrab disapa Oho itu menegaskan bahwa perseroan awalnya tidak berencana lagi menggarap proyek jalan tol ke depan demi memulihkan kondisi keuangan.
“Seluruh jalan tol kami tidak akan masuk, kecuali ada penugasan itu akan berbeda,” kata Hanugroho dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (5/3/2025).
Adapun beberapa ruas tol yang telah masuk dalam daftar divestasi dalam waktu dekat di antaranya Jalan Tol Pemalang - Batang serta Jalan Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat di Trans Sumatra.
Di sisi lain, Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) bersama Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah melangsungkan pembahasan mengenai rencana pergeseran fokus bisnis WSKT menjadi operator tol pada Jumat (17/7/2026).
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa proses restrukturisasi WSKT dirancang untuk memperkuat fokus perseroan pada pengusahaan jalan tol. Penajaman model bisnis ini dinilai penting untuk membangun fondasi keuangan yang sehat melalui arus kas berulang (recurring income) jangka panjang.
"Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar," ujarnya.
Dony menegaskan bahwa langkah restrukturisasi perseroan tidak sekadar dirancang untuk memperpanjang tenor kewajiban utang atau menunda masalah keuangan. Penyehatan WSKT dipastikannya disusun berbasis kalkulasi realistis dan terukur, mencakup valuasi aset, struktur pembayaran utang, hingga proyeksi arus kas.
Ia menambahkan, sektor pengelolaan jalan tol memiliki prospek bisnis teruji yang sanggup memperkuat kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban finansialnya secara mandiri.
Lebih lanjut, kondisi keuangan WSKT dipastikan harus pulih terlebih dahulu sebelum memasuki fase ekspansi guna mengembalikan kepercayaan pemangku kepentingan dan pasar modal. Melalui tata kelola yang membaik serta struktur modal yang lebih kuat, Waskita diharapkan dapat bertransformasi menjadi BUMN konstruksi yang berdaya saing tinggi.
Kendati demikian, sejumlah pihak menilai rencana pergeseran lini bisnis PT WSKT menjadi operator jalan tol berisiko tinggi dan berpotensi memicu masalah baru terkait ketahanan modal serta likuiditas perseroan.
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menjelaskan bahwa langkah transformasi ini kurang tepat lantaran karakteristik bisnis pengoperasian jalan tol membutuhkan modal kerja jangka panjang yang kontras dengan kondisi keuangan WSKT saat ini.
"Pergeseran lini bisnis Waskita Karya ini cenderung memaksakan. Terlalu sulit untuk diharapkan bisa berhasil ke depan," ujarnya kepada Bisnis.
Herry menerangkan, sebagai operator jalan tol, perseroan membutuhkan ketersediaan kas operasional secara kontinu guna membiayai perawatan rutin serta operasional ruas yang tidak dapat ditunda. Sementara itu, posisi kas operasional WSKT tercatat masih membukukan defisit hingga paruh pertama tahun ini.
Kondisi tersebut kian mengkhawatirkan lantaran WSKT masih dihadapkan pada kewajiban jangka pendek bernilai jumbo, seperti pembayaran kepada vendor serta pinjaman perbankan.
"Kebutuhan dana untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek sangat besar. Ini sulit dipenuhi dari bisnis operator jalan tol yang tingkat pengembalian investasinya jangka panjang," tambahnya.
Ia menilai kebijakan BP BUMN dan Danantara yang mendorong WSKT menjadi operator tol berpotensi mencederai semangat konsolidasi dan efisiensi BUMN. Masuknya WSKT ke ranah pengusahaan tol berisiko menciptakan kanibalisme pasar serta tumpang tindih peran dengan BUMN spesialis tol seperti PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR).
Dibanding dipaksakan menjadi operator utama, WSKT disarankan untuk masuk ke dalam ekosistem pendukung tol, misalnya sebagai spesialis perawatan dan pemeliharaan jalan.
"Restrukturisasi bisnis dan keuangan juga mutlak. Mesti ada skenario besar, tertata dari sisi target dan waktu, sehingga alat ukurnya jelas," pungkasnya.