JAKARTA - Bagi sebagian orang, mendengar kata "mama" atau "rumah" dapat membangkitkan kenangan mendalam, rasa aman, hingga gejolak emosi yang sulit diungkapkan. Menurut psikolog dan psikoterapis Changiz Mohiyeddini, Ph.D., fenomena tersebut bukanlah sekadar kebetulan.
Kata-kata yang dekat dengan pengalaman pribadi seseorang memiliki dampak emosional jauh lebih kuat dibanding kalimat motivasi dari tokoh terkenal. Momen sederhana yang hadir pada waktu yang tepat sering kali menjadi titik balik perubahan hidup seseorang.
Mohiyeddini mencontohkan kisah seorang pria yang mengurungkan niat mengakhiri hidup usai mendengar anak kecil memanggil ibunya. Di sisi lain, pertanyaan sederhana mengenai keberadaan rumah menjadi awal pemulihan bagi seorang penyintas kekerasan dalam rumah tangga.
Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan penelitian psikologi tentang memori atau encoding specificity principle oleh Endel Tulving dan Donald M. Thomson pada 1973. Teori ini menyebutkan bahwa seseorang lebih mudah mengingat pengalaman ketika menemukan isyarat yang terhubung dengan memori masa lalu.
Selain itu, teori memori autobiografis dari Martin A. Conway dan Christopher W. Pleydell-Pearce menjelaskan bahwa kenangan disimpan berdasarkan pengalaman pribadi yang membentuk identitas. Hal tersebut menjadikan kata yang terikat pada orang terdekat atau tempat penting terasa sangat bermakna.
Pengalaman selama hampir tiga dekade sebagai psikoterapis mengingatkan Mohiyeddini akan pentingnya memilih kata saat berbicara dengan orang lain. Kata-kata sederhana yang disampaikan dengan empati tulus bisa menjadi sumber kekuatan besar bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit.